Sultan Bah Dim dan Api Bumi Ketiga
Setelah melewati ujian kesabaran di Bumi Pertama dan pengakuan diri di Bumi Kedua, Sultan Bah Dim kini menapaki jalan menuju Bumi Ketiga. Dari celah cermin hitam, tubuhnya terhisap ke dalam pusaran cahaya merah kehitaman, jatuh semakin dalam ke perut bumi.
Semakin ia turun, udara makin panas. Nafasnya terasa berat, kulitnya seakan terbakar, dan suara gemuruh api bergema dari segala arah. Akhirnya ia mendarat di sebuah dunia yang seluruhnya diliputi lautan api. Tanahnya retak-retak, menyemburkan magma, langitnya penuh asap pekat dan bara beterbangan.
Di tengah lautan api itu berdiri sebuah gerbang raksasa dari besi merah membara, dijaga oleh makhluk-makhluk api yang menakutkan. Tubuh mereka seperti manusia, namun seluruhnya terbentuk dari bara menyala, dengan mata putih menyilaukan. Dari mulutnya keluar suara gemuruh seperti letusan gunung berapi.
Malaikat Penjaga Api
Dari balik gerbang muncul sosok lebih besar dan agung: Malaikat Penjaga Api, yang dikenal dalam wirid para leluhur sebagai Malak al-Jahim. Tubuhnya menjulang tinggi, wajahnya bersinar merah keemasan, dan di tangannya tergenggam tombak api sepanjang gunung.
Suara malaikat itu bergema, membuat api di sekitarnya meledak-ledak:
“Wahai Bah Dim, inilah Bumi Ketiga. Tempat api diciptakan untuk menguji manusia. Api membakar, menghancurkan, tapi juga menyucikan. Engkau akan diuji di sini: apakah engkau dikuasai oleh amarahmu, atau mampu menguasai api dalam dirimu?”
Bah Dim menunduk hormat.
“Aku siap, wahai penjaga bumi api. Ajarkan padaku arti dari bara ini.”
Malaikat mengangkat tombaknya.
“Maka bersiaplah. Sebab siapa yang gagal di bumi api, ia akan terbakar menjadi abu, tiada kembali.”
Ujian Pertama: Lautan Api
Tanah di bawah kaki Bah Dim retak, dan ia jatuh ke dalam lautan api. Panasnya bukan sekadar membakar tubuh, tapi juga membakar jiwa. Ia berteriak, tubuhnya serasa meleleh. Namun ia segera sadar, ini bukan api biasa. Ini adalah api amarah yang ada di dalam hati setiap manusia.
Dari dalam api itu muncul bayangan musuh-musuhnya, orang-orang yang pernah melukainya, mengkhianatinya, bahkan mereka yang pernah meremehkannya. Suara-suara bergema:
-
“Balas dendammu, Bah Dim! Api ini kekuatanmu!”
-
“Hancurkan mereka semua, maka engkau akan berkuasa!”
-
“Api ini milikmu, jangan sia-siakan!”
Bah Dim menggigil. Api amarah dalam hatinya memang pernah menyala. Namun ia mengingat ajaran gurunya: “Amarah itu ibarat api. Jika engkau kuasai, ia menerangi. Jika engkau biarkan, ia membakar dirimu sendiri.”
Dengan penuh keyakinan, ia duduk bersila di tengah lautan api, lalu berzikir dengan khusyuk:
“Ya Allah, jadikan api ini cahaya, bukan bencana. Jadikan amarah ini kekuatan, bukan kehancuran.”
Perlahan, api yang membakar tubuhnya mulai jinak, berubah menjadi cahaya merah keemasan yang menyelimutinya. Lautan api tenang, dan Bah Dim tidak terbakar lagi.
Ujian Kedua: Pertarungan dengan Ifrit Penjaga
Malaikat Penjaga tersenyum samar, lalu menghentakkan tombaknya. Dari balik magma keluar sosok raksasa: Ifrit Penjaga, makhluk dari bara murni. Tubuhnya sebesar gunung, dengan sayap api yang membentang luas. Ia meraung, membuat seluruh bumi bergetar.
“Wahai Bah Dim! Jika engkau ingin melewati bumi api ini, kau harus melawanku!”
Bah Dim menghunus Keris Triwikrama, yang kini bersinar biru beradu dengan merahnya api. Pertempuran pun dimulai.
-
Gelombang Api Ifrit
Ifrit menyemburkan lautan api, panasnya bisa melelehkan besi. Bah Dim melompat ke udara, mengayunkan kerisnya, membelah api itu menjadi dua. -
Pukulan Bara
Ifrit mengayunkan tangannya yang membara. Bah Dim sempat terpukul jatuh, tubuhnya terguncang, hampir tenggelam dalam magma. Namun ia segera bangkit, menancapkan keris ke tanah, menciptakan lingkaran cahaya pelindung. -
Serangan Balik Bah Dim
Dengan doa dan zikir, Bah Dim mengalirkan energi dari dalam dirinya. Keris Triwikrama bergetar, mengeluarkan jurus baru: Petir Cahaya Tiga Dimensi. Tebasannya memunculkan kilatan yang menyambar tubuh Ifrit.
Ifrit meraung keras, tubuhnya retak-retak, api yang menyelimutinya mereda. Ia berlutut, lalu bersujud di hadapan Bah Dim.
“Engkau bukan hanya kuat, tapi juga bijak menguasai api dalam dirimu. Aku tunduk padamu, wahai hamba Allah.”
Penyingkapan Rahasia Api
Malaikat Penjaga Api pun berbicara:
“Wahai Bah Dim, engkau telah memahami rahasia Bumi Ketiga. Api adalah ujian bagi hati manusia. Barang siapa dikuasai amarah, ia binasa. Tapi barang siapa menguasai amarah, api menjadi cahaya penerang jalan. Ingatlah, api adalah pedang bermata dua: bisa membakar, bisa menyinari.”
Bah Dim menunduk, air mata bercampur peluh di wajahnya.
“Ya Rabb, Engkaulah yang menjadikan api sebagai ujian. Aku bersyukur Engkau beri aku kekuatan untuk menaklukkannya.”
Gerbang besi membara pun terbuka, menampakkan cahaya hitam kebiruan yang berputar. Itu adalah jalan menuju Bumi Keempat.
Penutup Bumi Ketiga
Demikianlah, di Bumi Ketiga, Sultan Bah Dim belajar menguasai api amarah dalam dirinya. Ia menang atas Ifrit penjaga, dan kini ia melangkah lebih dalam menuju rahasia bumi berikutnya.
Di depan sana, Bumi Keempat menanti—dunia lautan hitam, tempat malaikat penguasa air dan kedalaman menjaga rahasia berikutnya.
No comments:
Post a Comment