🛡️ Kisah Kepahlawanan Sultan Bah Dim: Memulangkan Jenazah ABK Kapal Ikan dari Taiwan
Di awal tahun 2024, masyarakat Nusantara kembali dikejutkan dengan berita duka tentang salah satu anak bangsa yang bekerja sebagai ABK Kapal Ikan di Taiwan. Tenaga kerja Indonesia itu meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di tengah laut. Kabar tersebut menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga yang tinggal di desa kecil di Jawa Barat.
Keluarga yang tidak memiliki kemampuan dan akses menghubungi pihak luar negeri pun kebingungan. Proses pemulangan jenazah TKI biasanya memerlukan biaya yang besar, prosedur diplomatik yang rumit, serta koordinasi lintas lembaga. Di sinilah kemudian muncul Sultan Bah Dim, pemimpin Kesultanan Tangtung Buana, yang tergerak hatinya untuk membantu.
⚓ Awal Mula Kabar Duka
Sultan Bah Dim pertama kali mendapat kabar dari jejaring komunitas KOMIT Kuningan dan para imam tajug yang mengenal keluarga TKI tersebut. Keluarga korban meminta doa dan dukungan agar jenazah putranya bisa segera dipulangkan.
Sebagai pemimpin adat yang dikenal dekat dengan rakyat kecil, Sultan Bah Dim merasa terpanggil. “Ini bukan sekadar masalah diplomasi. Ini adalah urusan kemanusiaan. Kita harus bantu agar jenazah anak bangsa ini kembali ke tanah air dengan layak,” ujar Sultan Bah Dim dalam sebuah pertemuan di Pendopo Kesultanan Tangtung Buana.
🤝 Diplomasi Kemanusiaan
Mengandalkan jaringan persahabatan dan komunikasi yang luas, Sultan Bah Dim segera menghubungi berbagai pihak:
-
Perwakilan komunitas diaspora Indonesia di Taiwan.
-
Organisasi perlindungan buruh migran.
-
Pejabat KBRI Taipei.
-
Lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada ABK kapal ikan.
Langkah ini dilakukan dengan cepat, tanpa birokrasi berbelit. Sultan Bah Dim bahkan mengutus Patih Jumro untuk memimpin tim advokasi dan pengurusan dokumen pemulangan.
💰 Dukungan Biaya dan Logistik
Selain membantu koordinasi, Kesultanan Tangtung Buana juga menggalang dana untuk menutup biaya pemulangan jenazah. Dana itu terkumpul dari sumbangan para pangeran, anggota komunitas imam tajug, hingga masyarakat luas.
Bagi Sultan Bah Dim, ini adalah bukti bahwa adat dan solidaritas Nusantara masih hidup: ketika ada saudara yang kesusahan di luar negeri, masyarakat adat di tanah air siap turun tangan.
🛬 Jenazah Pulang ke Tanah Air
Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu setelah kabar duka diterima, jenazah TKI ABK Kapal Ikan dari Taiwan itu berhasil dipulangkan ke Indonesia. Setibanya di bandara, keluarga korban menitikkan air mata bahagia meski bercampur duka.
Sultan Bah Dim yang hadir langsung di prosesi penyambutan jenazah berkata, “Ini bukan kemenangan saya. Ini kemenangan kita semua, bangsa Indonesia yang peduli kepada anak bangsanya di perantauan.”
Jenazah kemudian dimakamkan di kampung halamannya dengan penghormatan adat dan doa bersama.
🌟 Inspirasi untuk Pemimpin Lain
Kisah kepahlawanan Sultan Bah Dim ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Ia menunjukkan bahwa pemimpin adat pun bisa berperan nyata dalam isu kemanusiaan lintas negara. Tidak perlu menunggu instruksi formal atau anggaran besar; dengan niat tulus, jaringan komunitas, dan gotong royong, hal besar bisa diwujudkan.
Kisah ini juga menegaskan bahwa Kesultanan Tangtung Buana bukan hanya simbol adat dan budaya, tetapi juga pusat aksi sosial kemanusiaan yang responsif terhadap penderitaan rakyat kecil, termasuk TKI yang sering terabaikan nasibnya.
🔗 Sumber Resmi
Cerita kepahlawanan Sultan Bah Dim ini dicatat di blog resmi Kesultanan Tangtung Buana:
https://kesultanantangtungbuanaa.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment