Sunday, October 5, 2025

🌌 Langit Ketiga: Ujian Cinta & Ikatan Masa Lalu

 

🌌 Langit Ketiga: Ujian Cinta & Ikatan Masa Lalu

Gerbang Kenangan

Setelah melewati Langit Kedua dengan kitab bercahaya di dadanya, Sultan Bah Dim melangkah ke sebuah lorong panjang. Kali ini, lorong itu penuh dengan aroma harum bunga melati, suara gamelan lembut, dan cahaya yang menenangkan. Ia merasa seolah-olah kembali ke masa kecilnya.

Di ujung lorong, terbentang Gerbang Kenangan, dihiasi sulur-sulur bunga. Tidak ada penjaga raksasa, tidak ada makhluk menakutkan. Hanya suara lembut yang memanggil:

“Bah Dim… pulanglah… kami merindukanmu…”

Suara itu membuat dadanya bergetar. Ia tahu, inilah awal ujian cinta dan ikatan masa lalu.


Pertemuan dengan Sang Ibu

Begitu gerbang terbuka, Bah Dim melihat sosok yang paling ia rindukan: ibunya. Wajahnya berseri, senyum lembut menghiasi bibirnya, mata penuh kasih sayang.

“Anakku…” sang ibu berkata, “engkau telah jauh melangkah. Mengapa engkau tinggalkan rumah dan keluarga? Kembalilah. Jangan terus mengejar langit. Bukankah surga ada di telapak kaki ibu?”

Air mata Bah Dim mengalir. Hatinya diguncang. Bukankah benar kata ibunya? Bukankah bakti pada orang tua adalah kewajiban tertinggi? Namun dalam hatinya ia juga tahu, ujian ini bukanlah kenyataan, melainkan bayangan yang hendak mengikatnya.

Dengan suara bergetar ia menjawab:
“Ibu, cintaku padamu tidak pernah padam. Doamu adalah bekalku, kasihmu adalah pelitaku. Namun aku tidak bisa berhenti di sini. Perjalanan ini bukan untuk meninggalkanmu, tetapi untuk membawamu dalam setiap langkahku menuju ridha Allah.”

Seketika, sosok sang ibu memudar menjadi cahaya, lalu hilang dalam keheningan.


Kekasih yang Hilang

Langkah berikutnya membawa Bah Dim ke sebuah taman indah. Di sana berdiri seorang wanita muda berwajah jelita, berpakaian serba putih. Senyumannya menawan, tatapannya penuh rindu.

“Bah Dim…” suara lembut itu bergetar, “ingatkah engkau padaku? Aku adalah cintamu yang hilang, yang dulu engkau tinggalkan demi jalan spiritualmu. Aku masih menunggu… Tidakkah engkau ingin kembali padaku?”

Hati Bah Dim kembali goyah. Cinta manusiawi yang pernah ia rasakan bergetar kembali. Sebagian hatinya ingin berhenti, merengkuh wanita itu, dan hidup bahagia bersamanya.

Namun ia sadar, ini hanyalah ujian. Ia berkata lirih:
“Cinta manusia adalah anugerah, namun ia bisa menjadi jerat jika melupakan Sang Pencipta. Aku mencintaimu, tapi cintaku harus lebih besar kepada Allah. Jika engkau benar cintaku, engkau akan bersamaku di jalan-Nya, bukan di sini sebagai bayangan.”

Wanita itu tersenyum, lalu tubuhnya berubah menjadi sekuntum bunga yang mekar dan perlahan hilang tertiup angin.


Arwah Para Leluhur

Bah Dim kini berjalan ke sebuah balairung besar. Di sana, duduk para leluhurnya: raja-raja, panglima, ulama, dan orang-orang terhormat dari tanah kelahirannya. Mereka bersorak memanggil namanya.

“Bah Dim, engkau adalah pewaris kami! Engkau harus meneruskan kejayaan leluhurmu. Engkau tidak boleh melupakan tanah, darah, dan kehormatan kami. Kembalilah menjadi raja dunia, bukan pengembara langit!”

Bah Dim terdiam. Hatinya penuh hormat kepada leluhurnya. Ia tahu, tanpa mereka ia takkan ada. Tapi ia juga tahu, kesetiaan buta pada masa lalu bisa menghalangi langkah ke masa depan.

Dengan suara tegas, ia berkata:
“Wahai leluhurku, aku menghormatimu. Aku membawa namamu dalam doa, aku menjaga kehormatanmu dalam amal. Namun aku tidak bisa berhenti pada kejayaan masa lalu. Perjalananku adalah menuju Allah. Kejayaan sejati bukanlah di bumi, melainkan di sisi-Nya.”

Para leluhur itu perlahan menghilang, meninggalkan senyum bangga sebelum berubah menjadi bintang-bintang kecil di langit balairung.


Bayangan Diri yang Rapuh

Tiba-tiba, Bah Dim melihat seorang pemuda kurus, berpakaian lusuh, wajahnya penuh luka. Pemuda itu menangis tersedu-sedu.

“Aku adalah engkau yang dulu… aku adalah dirimu yang miskin, terluka, dan kesepian. Mengapa engkau meninggalkanku? Mengapa engkau melupakan penderitaanmu sendiri?”

Bah Dim merasakan kepedihan. Itu adalah bayangan masa lalunya, saat ia masih rapuh dan tak berdaya. Ia merasa bersalah karena telah menolak bagian dari dirinya sendiri.

Namun ia sadar: menerima masa lalu bukan berarti terikat padanya. Dengan penuh kasih, ia mendekati pemuda itu dan memeluknya.

“Engkau adalah bagian dariku. Aku tidak akan melupakanmu. Tapi aku tidak akan membiarkan penderitaanmu mengikatku. Aku membawa luka itu sebagai pelajaran, bukan belenggu.”

Pemuda itu pun tersenyum, lalu tubuhnya larut menjadi cahaya, menyatu ke dalam hati Bah Dim.


Kemenangan di Langit Ketiga

Setelah melalui semua ujian, suara lembut menggema dari langit:

“Wahai Bah Dim, engkau telah lulus dari ujian cinta dan ikatan masa lalu. Engkau memahami bahwa cinta sejati tidak boleh mengikat, tetapi membebaskan. Cinta yang sejati hanyalah kepada Allah, dan semua cinta lain hanyalah jalan menuju-Nya.”

Gerbang berikutnya pun terbuka, memancarkan cahaya keemasan yang hangat.

No comments:

Post a Comment

🌺 BAB V — NEGARA CAHAYA DAN WASIAT TERAKHIR SULTAN TANGTUNG BUANA

 🌞 Baik — kita sampai pada bagian tertinggi dan paling sakral dari kitab kebijaksanaan: 📜 “RA HAYAT DAN RAKYAT” Karya Sultan Tangtung ...