Sunday, October 5, 2025

Sultan Bah Dim dan Rahasia Bumi Pertama

 

Sultan Bah Dim dan Rahasia Bumi Pertama

Setelah menaklukkan tujuh lapis langit dan menyatu dengan cahaya rahasia Ilahi, Sultan Bah Dim kembali turun ke dunia fana. Namun perjalanan rohaninya belum berakhir. Dalam doa malamnya, suara gaib yang lembut namun tegas berbisik kepadanya:

“Wahai Bah Dim, engkau telah memahami ketinggian. Kini engkau harus memahami kedalaman. Sebab langit dan bumi adalah dua sisi dari satu rahasia. Maka turunlah engkau ke dalam tujuh lapis bumi, temuilah para penjaganya, dan pahamilah hakikat kerendahan.”

Bah Dim pun bersujud, menerima wahyu itu. Dengan hati mantap, ia mulai melakukan tapa brata, duduk bersila di puncak gunung yang sunyi. Ia membaca wirid leluhur, tubuhnya bergetar, dan perlahan bumi di bawahnya terbelah, membentuk pusaran gelap yang dalam tak terhingga. Tanpa ragu, ia melangkah masuk, menembus pusaran itu. Perjalanan ke tujuh lapis bumi dimulai.


Gerbang Ardhul Awal

Bah Dim jatuh dalam hening pekat, seakan ditelan rahim bumi. Setelah beberapa lama, ia mendarat di hamparan tanah merah bercahaya. Bumi Pertama atau Ardhul Awal adalah dunia yang penuh energi kasar, tanahnya bergetar seolah hidup, dan udara terasa berat. Di kejauhan berdiri sebuah pintu raksasa dari batu hitam, diukir dengan aksara-aksara kuno yang memancarkan sinar merah darah.

Di depan pintu itu berdiri sosok makhluk agung: Malaikat Penjaga Bumi Pertama. Tubuhnya setinggi gunung, kulitnya hitam berkilau seperti obsidian, matanya merah menyala, dan di tangannya tergenggam tongkat batu besar. Suaranya bergema dalam, seperti gemuruh gempa bumi:

“Wahai manusia yang menembus kedalaman, siapa engkau yang berani melangkah ke Ardhul Awal?”

Bah Dim berdiri tegak, menangkupkan tangan di dada.
“Aku Bah Dim, hamba Allah, yang mencari kebenaran di langit dan bumi. Aku datang bukan untuk menguasai, tapi untuk memahami rahasia di balik kedalaman bumi.”

Malaikat itu menatap tajam, suaranya menggelegar:
“Setiap yang masuk ke sini harus diuji. Ardhul Awal bukan dunia kekuatan, melainkan dunia kesabaran. Jika engkau tak sabar, bumi ini akan menelammu dan menjadikanmu batu. Apakah engkau siap?”

Bah Dim mengangguk. “Demi Allah, aku siap.”


Ujian Kesabaran

Maka mulailah ujian. Malaikat itu mengangkat tongkatnya, menghentakkan ke tanah. Seketika bumi bergetar, tanah di bawah Bah Dim terbuka, dan ia jatuh ke dalam lubang yang gelap. Lubang itu seolah tak berujung. Bah Dim terjatuh, tubuhnya terbentur-bentur, namun ia tidak menjerit. Ia hanya berzikir: “La ilaha illallah…” terus-menerus.

Setelah sekian lama, ia mendarat di ruang luas. Di sana, tanah terus bergerak, bergelombang seperti laut. Dari dalam tanah muncul bayangan-bayangan hitam—wujud dari nafsu manusia: keserakahan, amarah, dan kesombongan. Bayangan itu melingkari Bah Dim, berbisik menggoda:

  • “Engkau bisa menguasai dunia dengan kekuatanmu, mengapa harus tunduk?”

  • “Ambil harta, ambil kuasa, bumi ini milikmu!”

  • “Hancurkan siapa saja yang menghalangimu!”

Bah Dim menutup mata, mengatur napas. Ia sadar ini bukan sekadar ilusi, melainkan ujian dari dalam dirinya sendiri. Dengan lembut ia menjawab:
“Wahai nafsu, aku mengenalmu. Tapi aku bukan budakmu. Aku hanya hamba Allah. Aku tidak datang untuk menguasai bumi, tapi untuk tunduk kepada Sang Pencipta bumi.”

Bayangan-bayangan itu meraung, mencoba menelan tubuhnya, namun setiap kali Bah Dim melafalkan doa, tubuhnya memancarkan cahaya putih yang membuat bayangan itu lenyap satu per satu. Hingga akhirnya, bumi menjadi tenang kembali.


Pertemuan Kedua dengan Malaikat

Setelah ujian itu, Malaikat Penjaga kembali muncul, kali ini dalam wujud lebih lembut. Matanya tak lagi menyala marah, melainkan bercahaya teduh. Ia berkata:

“Wahai Bah Dim, engkau telah lulus ujian pertama. Engkau tidak jatuh pada nafsu, engkau bersabar menghadapi gelapnya bumi. Ketahuilah, Ardhul Awal mengajarkan bahwa dasar manusia adalah tanah. Dan tanah hanya kuat karena kerendahan dan kesabaran. Barang siapa sabar, ia akan kokoh seperti bumi. Barang siapa angkuh, ia akan hancur ditelan bumi.”

Bah Dim menunduk, meneteskan air mata.
“Aku mengerti. Kesabaran adalah pondasi, sebagaimana tanah adalah dasar dari kehidupan.”

Malaikat itu tersenyum.
“Maka melangkahlah ke lapis bumi berikutnya. Namun ingat, semakin dalam engkau masuk, semakin berat ujian yang menanti.”

Dengan itu, pintu batu hitam terbuka. Dari dalamnya keluar cahaya merah berputar, jalan menuju Bumi Kedua. Bah Dim melangkah masuk, membawa hati yang semakin mantap.


Penutup Bumi Pertama

Demikianlah, perjalanan Sultan Bah Dim di Bumi Pertama adalah perjalanan untuk menaklukkan kesabaran dan nafsu dasar. Dari tanah ia belajar, bahwa kekuatan sejati bukanlah pada menguasai, melainkan pada kemampuan untuk menahan diri dan tunduk kepada Allah.

Langkahnya kini berlanjut, menuju kedalaman lebih gelap, di mana rahasia semakin besar menunggu. Perjalanan ke Bumi Kedua akan menguji bukan lagi kesabaran, melainkan hisab amal perbuatan.

No comments:

Post a Comment

🌺 BAB V — NEGARA CAHAYA DAN WASIAT TERAKHIR SULTAN TANGTUNG BUANA

 🌞 Baik — kita sampai pada bagian tertinggi dan paling sakral dari kitab kebijaksanaan: 📜 “RA HAYAT DAN RAKYAT” Karya Sultan Tangtung ...